Berita Hari Ini

Loading...

Perjanjian selalu timbul atas dasar kesepakatan (atau dg kehendak dari para pihak)

Sedangkan perikatan timbul tidak hanya karena ada kehendak para pihak, namun bisa terjadi melalui Undang-undang.

 

Definisi :

Perjanjian adalah Suatu perbuatan dg mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. (Ps. 1313)

 

Menurut para ahli hukum, bunyi pasal tersebut terlalu luas tetapi tidak lengkap, mengapa demkian ?

Jawab :

o    Bersifat  terlalu luas, pada kata perbuatan. Bisa diartikan sebagai perbuatan hukum dan bukan perbuatan hukum. Padahal Perjanjian merupakan perbuatan hukum.

o    Tidak Lengkap, pada kata mengikatkan dirinya... Seolah-olah hanya satu pihak saja yg mengikatkan dirinya pada satu pihak yg lain tanpa kesepakatan. Lebih tepat bila digunakan kalimat saling mengikatkan....

 

Syarat sahnya perjanjian ;

Subyektif :

a.       Sepakat, ada kesepakatan antara para pihak.

Ps. 1321, Tidak ada kesepakatan yg sah jika dibuat dalam kekeliruan, kekhilafan, paksaan, atau penipuan (Dalam praktek peradilan terdapat satu istilah lagi, yaitu Penyalahgunaan Keadaan).

Hal diatas disebut Cacat Kehendak.

Cara terjadinya kesepakatan :

                     i.Secara Lugas :

                                     1.      Lisan

                                     2.      Tertulis

                                     3.      Isyarat

                   ii.Secara Diam-diam :

                                     1.      Perjanjian yg dibuat tertulis atau tidak tertulis disini mempunyai kekuatan mengikat yg sama, bedanya apabila ada sengketa sulit untuk membuktikan apabila dilakukan secara lisan.

                                     2.      Suatu hal tertentu.

 

b.      Kecakapan, dilakukan oleh subyek yg cakap bertindak.

Orang yg telah dianggap dewasa oleh hukum, atau berumur 18 tahun berdasarkan hukum perkawinan (ini yg berlaku dalam hukum perdata) atau dalam KUHPer 21 tahun.

Subyek tidak cakap hukum :

·         Dibawah 18 tahun

·         Dibawah pengampuan

·         Seorang Istri (Menurut KUHPer)

Subyek tidak cakap dalam membuat perjanjian agar tidak terancam pembatalan maka ;

·         Dibawah umur : dilakukan oleh orang tua-nya.

·         Dibawah pengampuan : dilakukan oleh Pengampu-nya.

Namun demikian hak membatalkan perjanjian tetap berada pada anak atau orang yg diampu.

 

Obyektif

c.       Sesuatu hal tertentu, adalah obyek perjanjian itu sendiri (prestasi).

d.      Sebab yg Hallal (Klausa Hallal), tidak melawan hukum.

 

 

Akibat hukum bila syarat tersebut dilanggar ;

o     

Subyektif

 Dapat dibatalkan

Obyektif

 Batal demi Hukum

 

Dapat Dibatalkan artinya Perjanjian tetap mengikat selama belum ada ketentuan pembatalan.

Batal Demi Hukum artinya Sejak semula perjanjian hukum itu dianggap tidak mempunyai kekuatan hukum, atau dianggap tidak ada (Null Envoi)

 

Kapankah Perjanjian itu timbul ?

Perjanjian timbul sejak adanya kata sepakat antara para pihak.

 

Asas Perjanjian

1.       Asas Konsensualisme

2.       Asas Kebebasan Berkontrak

3.       Asas Pacta Sum Servanda

4.       Asas Itikad Baik

 

1.       Asas Konsensualisme

Perjanjian itu harus didasarkan pada kata sepakat, sehingga berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat sejak ada kata sepakat.

Pengecualian ;

a.       Perjanjian Riil : Apabila perjanjian itu telah dilaksanakan secara nyata (riil), contoh : Perjanjian Penitipan Barang.

b.      Perjanjian Formil : Apabila perjanjian itu dituangkan atau dibuat dalam bentuk tertentu.

 

2.       Asas Kebebasan Berkontrak

Ps. 1338,2. Setiap perjanjian yg dibuat secara sah berlaku sebagai UU bagi mereka yg membuatnya.

Yang dimaksudkan dalam kebebasan berkontrak :

a.       Bebas untuk membuat perjanjian, dan bebas juga untuk tidak membuat perjanjian. Artinya tidak ada paksaan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian.

b.      Bebas menentukan dengan siapa akan membuat perjanjian.

c.       Bebas membuat tentang hal apa perjanjian itu dibuat. (Bebas menentukan Subjek dan Objek dalam perjanjian)

d.      Bebas menentukan isi perjanjian

e.      Bebas menentukan bentuk perjanjian.

 

3.       Asas Pacta Sum Servanda

Ps. 1381,1. Setiap perjanjian yg dibuat secara sah, berlaku sebagai UU bagi mereka yg membuatnya.

 

 

 

 

 

 

Related Post



This entry was posted on 16:40 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: